“Ini dia jalannya! Ayo! Cepat!”
“Sepertinya yang ini, bukan itu.”
“Ah, sudahlah, cepat sedikit!”
“Kalau begitu tunggu, biar ‘ku pikir-pikir...”
Sedari tadi mereka berdua berdebat. Sebenarnya kurang tepat juga kalau menyebut “mereka berdua”. Karena, menurut para ahli medis, kasus ini belum ada penjelasan teoritisnya. Apa pasal? Ya, mereka berdua sebenarnya adalah satu: kembar siam, itu kata yang mendekati. Dari leher ke bawah biasa, layaknya tubuh manusia-manusia normal. Namun, satu tubuh itu memiliki dua kepala, dan jika kita perhatikan lekat-lekat, sebenarnya tubuhnya pun ada dua. Benar-benar unik.
Mereka berdua adalah sepasang kekasih. Tadinya, tubuh mereka terpisah, seperti biasa. Yang pria kurus, tinggi, lumayan tampan untuk ukurannya, dan yang perempuan tidak lebih tinggi, tidak kurus-kurus amat, dan terlihat cantik. Lalu, kok, mereka bisa menyatu? Menurut sejarahnya, mereka sering menghabiskan waktu bersama—berdiskusi, bercanda, bahkan menangis juga bersama. Menelusuri jalan-jalan, bersama. Lalu keajaiban terjadi, tanpa mereka sadari, kaki mereka mulai menempel. Mata kaki dengan mata kaki. Betis dengan betis. Bersebelahan, berjalan beriringan. Mulanya tidak ada yang memperhatikan—lalu, gemparlah dunia ilmu pengetahuan dan pergosipan.
Berbagai-bagai analisis merebak: dari yang ilmiah sampai yang tidak karuan. Seorang dokter ternama menebak bahwa ini terjadi karena sel-sel tubuh mereka berdua memiliki tipe gen yang sama. Seorang ahli biologi pemenang nobel menyanggah, bukan, itu terjadi karena mereka memiliki hormon yang sama dengan pohon yang dapat dicangkok. Seorang pakar fisika dari universitas tersohor mengatakan fenomena gaya gravitasilah penyebabnya. Tukang sate tempat mereka biasa makan bilang, itu karena mereka sering makan di tempatnya. Grteyj kdufhdsju hhshfhb, begitu kata orang gila yang diminta pendapatnya di harian ternama. Namun mereka berdua acuh-acuh saja menikmati.
Keajaiban tidak berhenti di situ. Setelah kaki-kaki mereka menempel, badan mereka pun mulai bertaut. Anehnya, mereka tidak merasakan sakit atau apa, hanya bahagia. Terlebih ketika seorang ilmuwan menyatakan niatnya untuk meneliti mereka, ilmuwan itu terkejut bukan main melihat hasil penelitiannya. Dia menemukan bahwa selain organ-organ luar, organ-organ dalam tubuh mereka berdua pun ikut menyatu. Hasil foto sinar-X sudah memastikan demikian: mereka berbagi darah yang sama, jantung yang sama beserta detaknya, tarikan napas yang sama, juga hati yang sama—karena ini pula mereka dapat merasakan hal yang sama tanpa perlu berkata-kata. Lagi-lagi, mereka berdua acuh-acuh saja menikmatinya.
***
“Lagi nonton apaan, kamu?”
“Ini, nih, pilemnya rame banget: masa’ orang bisa kembar siam pas udah gede, bukan dari lahir. Gila.”
“Filmnya siapa, si’?”
“Ngga tau, aku nemu di tumpukan sidi.
“Siapa sutradaranya, aku juga ngga tau. Naskahnya siapa, juga aku ngga tau. Pas disetel, eh tau-tau udah langsung mulai—tapi yang jelas special effect-nya bagus banget, kaya’ beneran.
“Jadi sebenernya dua orang ini misah, tadinya. Terus mereka pacaran,kaya’ kita...”
“Ssst, udah diem, ngga usah diceritain, aku mau tonton juga...”
***
“Sudah, ayo kita jalan lagi! Pasti Sang Bijak tidak jauh dari sini.”
“Benarkah yang dikatakan Yang Berilmu itu atau hanya kiasan? Dia bilang Sang Bijak lebih dekat daripada urat leher kita sendiri, tapi dia juga bilang bahwa Sang Bijak berada di tempat yang tinggi, tinggi sekali, dan hanya dapat ditemukan oleh kita yang mencari.”
“Pfiuh, kita sudah mendaki sejauh ini, puncaknya belum juga terlihat.”
Meski mereka berdua berbahagia dan acuh menikmatinya, terkadang permasalahan muncul. Ketika berjalan-jalan di pusat perbelanjaan dan salah satunya ingin buang air, mereka bingung harus pergi ke tempat pria atau perempuan. Biasanya salah satu akan menyamar atau, kalau sedang beruntung, mereka mendapati kamar kecil “satu untuk semua”. Permasalahan ini serupa dengan apakah mereka harus pergi ke asrama pria atau perempuan. Maklum, mereka diajar di kampus yang sama.
Terkadang mereka rikuh dengan menyatunya tubuh mereka: gosip olahaninfotainment yang mengatakan bahwa mereka sedang mendalami ilmu hitam-lah; peneliti-peneliti yang berhamburan mendekati mereka demi alasan ilmu pengetahuan-lah; dosen-dosen yang bingung ketika ujian-lah; kuli-kuli foto yang tak henti-henti memata-matai-lah; ulama-ulama yang mengatakan bahwa mereka pertanda kiamat-lah; keluarga yang termakan pikiran-pikiran kotornya lalu menghakimi mereka-lah; tetangga-tetangga yang memanas-manasi keadaan dengan bumbu-bumbu-lah; anak-anak kecil yang membuntut takjub tiap mereka berjalan-lah; perwakilan Ripley’s dan Madamme Tussaud’s yang berebut hak ekslusif-lah; Discovery Channel yang berani membayar berapa pun untuk tayangannya-lah; dan banyak lagi “lah-lah” yang lain.
Sebenarnya mereka tak bermasalah dengan menyatunya tubuh mereka, hanya saja lama-kelamaan mereka juga mulai mempertanyakan alasan di balik ini semua. Mulailah mereka menanyakan ke orang-orang berilmu—sebab penjelasan ilmiah belum juga didapat. Seseorang yang, katanya, berilmu mengatakan bahwa mereka harus menjadi anggota aliran itu dulu untuk dapat mengetahuinya. Mereka menolak—dia bukan orang berilmu. Mereka mulai membaca buku-buku. Tak puas dengan itu, mereka juga melihat-lihat dan coba memahami kitab-kitab suci. Akhirnya, pencarian dianggap usai: dalam suatu kitab suci warisan Yang Berilmu diketahui bahwa untuk mengetahuinya mereka perlu bertanya pada Sang Bijak. Dari kitab warisan itu juga diketahui bahwa Sang Bijak berada lebih dekat dari urat leher mereka dan, secara paradoks, berada di tempat yang sangat tinggi. Ditambah, hanya merekalah yang dapat menemukan Sang Bijak.
Setelah puas saling mengamati urat leher masing-masing, mereka belum dapat menemukannya. Mereka memutuskan untuk berteriak-teriak memanggil Sang Bijak: belum juga bertemu. Tinggal satu yang terakhir, Sang Bijak berada di tempat yang sangat tinggi. Dan karena hanya mereka yang mampu menemukannya, mereka membuat rencana-rencana termasuk peta dan bersepakat untuk melalui jalan-jalan yang mengarah pada Sang Bijak—ke tempat yang sangat tinggi tentunya. Begitulah, mereka mulai mendaki sekarang, memperhatikan tanda-tanda.
***
Stop.
“Lho, kok, di-paused? Lagi seru juga.”
“Ngga, ngga di-paused... sidinya abis. Waduh, sidi duanya yang mana, ya?”
“Coba liat CD-nya, sini,
“Hei, ternyata ini emang cuma satu CD, tapi bolak-balik... aneh, CD-nya menyatu juga.”
... ... ...
“Sebentar-sebentar, sambil nonton, kamu pasti mau minum, ‘kan?Ngemil apaaa, ‘gitu? Kamu ‘kan, laperan orangnya.”
“Hehehe, kamu tau aja perasaan aku.
“Bikinin popcorn—menteganya jangan banyak-banyak, plus air segelas, jangan dingin!”
“Udah disiapin, tenang, ditunggu, ya?
... ... ...
“Nih, sesuai pesanan, datang.
“Mereka bakal ketemu Sang Bijak ngga, ya? Aku penasaran—tapikaya’nya sih... ah, pasti ketemu. Tapiiii...”
“Tapi apa jawabannya, ya ‘kan? Alasannya kenapa mereka bisa menyatu, ‘gitu?”
“Iya, bener—tau aja kamu apa yang aku pikirin.”
***
Gunung, itulah yang terpikir oleh mereka, karena Sang Bijak berada di tempat yang sangat tinggi. Rencana-rencana dipikirkan, peta-peta dibuat, jalan-jalan dilalui. Mereka sudah melalui terjalnya tebing, jurang di kiri-kanan, jalan lurus nan landai di lembah, ngarai. Jalan menurun yang melegakan, mendaki yang melelahkan. Jalan sepi tanpa orang-orang, jalan yang gaduh dengan suara-suara. Siang-malam. Hujan sejuk, panas terik. Mereka tetap mencari. Lagi.
“Cepat, ayo...”
“Tunggu, aku lelah, biarkan aku beristirahat barang sebentar saja.”
“Lalu, kapan kita akan bertemu Sang Bijak, kalau lagi-lagi beristirahat?
“Ya, sudah—tapi sebentar saja, ya?”
“Baiklah. Kita bisa duduk di batu itu dan bersandar pada pohon besar itu.”
Mereka pun duduk lalu bersandar.
Karena lelah mencari, mereka tertidur.
... ... ...
“O, wahai makhluk berjuluk manusia: Sesungguhnya di dalam tiap-tiap diri kalian terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, baiklah jiwa-raganya; bila daging itu buruk, buruklah jiwa-raganya. Ketahuilah, segumpal daging itu disebut hati.”
“Hah, siapa kau?”
“Ya, siapa?”
“O, wahai makhluk berakal-budi berjuluk manusia: Aku adalah Sang Bijak Yang Berilmu: Sesungguhnya, Aku adalah dekat, lebih dekat daripada urat leher kalian. Aku-lah Yang Maha Membalikkan Hati.”
“Sang Bijak Yang Berilmu, dengan segala kerendahan hati, izinkan kami mengajukan pertanyaan yang menggang...”
“O, wahai makhluk terbaik berjuluk manusia: Aku Maha Mengetahui apa-apa yang nyata dan tersembunyi: Sesungguhnya setiap kaum akan mendapatkan apa yang diusahakannya; tidak akan berubah, sekali-kali tidak akan berubah, apabila kaum itu tidak berusaha merubahnya. Maka, hati kalian bersatu karena usaha kalian, hati kalian terpisah karena usaha kalian. Ketahuilah, semua tertulis dalam naskah hidup.”
***
“Itu dia alasannya: mereka menyatu karena mereka ingin menyatu, terpisah karena mereka ingin terpisah...”
“Dan itu sudah takdir...”
“Ya, bener.”
“Abis, deh, pilemnya. Matiin, ya?”
“Eh, tunggu, aku mao liat siapa sutradaranya, script writer-nya—danspecial effect-nya.
“Tuh, baca, tuh,
“Sutradara Hidup: Penulis Naskah Hidup: Efek Khusus Hidup: Sang Bijak Yang Berilmu.”
... ... ...
“Apa kamu memikirkan apa yang aku pikirkan?”
“Ya. Tolong kamu liat ke bawah: kaki kita menyatu.”
No comments:
Post a Comment